KRITIK CERPEN LAKI-LAKI DAN KATA-KATA:

Potret Reformasi dalam Sastra

Oleh: Leni Marlina, S.S

Karya sastra merupakan solusi alternatif dalam mencerdaskan dan mewujudkan pembangunan bangsa Indonesia seutuhnya. Misi sastra ditujukan untuk meningkatkan kualitas kemanusian manusia, memperhalus budi pekerti, mempertajam intuisi dan memperbening nurani dengan menghadirkan rangkaian cerita yang mempunyai nilai moral yang tinggi.

Pengarang cerpen ini, dengan cerdas memotret seorang mantan aktivis mahasiswa yang berjuang melakukan gerakan reformasi, berdemontrasi, menegakkan demokrasi. Setelah menerima tawaran pekerjaan dari instansi pemerintah, mantan aktivis itu tidak dapat berbuat seberani, sekritis, seidealis waktu ia memimpin demonstrasi atas ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Bahkan dia telah meninggalkan dan tidak lagi mendengar kawan-kawan seperjuangannya. Menjelang akhir hidupnya, ia diingatkan seorang laki-laki yang memprotesnya secara tidak sengaja dalam sebuah kereta api malam di Jakarta.

Pada paragraf 1 bagian I cerita, terdapat majas personifikasi; “Pepohonan berubah menjadi bayangan yang saling kejar-mengejar dalam cahaya remang lampu-lampu malam”.  Personifikasi ini sangat tepat dengan kondisi tokoh Vio yang dikejar perasaan bersalah dan bayangan akan ketidakmampuan dirinya menjaga amanat perjuangan demokrasi. Pada paragraf 1 bagian II cerita, terdapat majas hiperbola; “Seakan-akan dunia menyempit menjadi kotak empat kali empat”. Hiperbola ini sangat mendukung karakter Vio yang mulai berpikiran sempit, berpikir hanya untuk dirinya sendiri setelah menerima tawaran pekerjaan.

Cerpen yang berjudul “Laki-laki dan Kata-kata” berlatar era reformasi yang ditandai dengan perjuangan menegakkan demokrasi. Era dimana setiap orang menginginkan perubahan hidup berbangsa dari situasi yang diwarnai KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) menjadi bersih dan transparan. Dari masa terbungkamnya suara-suara yang lebih mementingkan rakyat menjadi masa kebebasan berbicara dan menyampaikan aspirasi. Dari masa pembredelan pers menjadi masa kebebasan pers. Tidak bisa dipungkiri, terjadi pula “kebablasan reformasi dan demokrasi”. Di mana setiap orang merasa berhak dan bebas beraspirasi, berbicara, berkehendak dan bertindak semaunya.

Vio mengatakan Carut yang tidak lagi terbendung adalah buah perjuangannya. Tentu saja ini bukan hasil perjuangan yang diinginkan, yang  pantas diperjuangkan dan dipertahankan. Tapi carut ini kembali tidak akan terbendung, apabila ada pengkhianat perjuangan reformasi dan demokrasi, yaitu orang yang dulunya berjuang atas nama rakyat, setelah mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang nyaman kembali tidak lagi mempedulikan nasib orang banyak. Ironis sekali hal ini justru terjadi pada Vio, seorang yang pernah menjadi mahasiswa dan berjuang dengan penuh idealisme.

Pengarang cerpen mengajak pembaca untuk menyikapi dengan bijak dan cerdas apa yang disampaikan laki-laki misterius di kereta. Tuhan, atau apapun yang membuat hidup ini ada, tidak memperuntukkan hidup untuk sebagian orang.  Kalimat ini tidak ada sambungannya karena laki-laki yang baru dikenal Vio itu segera menutup kata-katanya bersamaan dengan menutup bukunya. Justru  hal ini menyebabkan Vio sangat ingin bertemu kembali dengan laki-laki tersebut untuk mencari kelanjutan kata-katanya. Pada bagian ini, pengarang mengajak pembaca untuk menyikapi secara arif tentang pernyataan yang dibuat oleh laki-laki misterius di kereta api.

Setelah Vio mencari laki-laki misterius itu di sekeliling Jakarta, ibukota Indonesia yang padat dan terasa sesak, akhirnya Vio menemukan laki-laki itu di Yogyakarta. Ternyata laki-laki itu juga seorang pejuang. Ia juga berjuang dengan kata-kata yang penuh kekuatan seni sastra yaitu sebagai seorang penyair jalanan. Dari gambaran yang diberikan pengarang, penyair itu bisa jadi juga seorang mahasiswa atau setidaknya pernah menjadi mahasiswa. Melalui cerpen ini, pengarang mengingatkan kita agar selalu komitmen berjuang sesuai dengan kemampuan masing-masing demi bangsa. Agar mahasiswa terus berjuang dengan kekuatan intelektual dan idealismenya.

Cerpen ini memiliki penyelesaian yang tidak bisa ditebak sebelumya. Vio bernasib tragis, tergilas mobil ketika ia hendak menemui laki-laki penyair. Pengarang berusaha membuat pembaca bertanya-tanya, apakah tergilasnya Vio murni kecelakaan atau ada alasan khusus dibalik itu. Pembaca telah disuguhkan tawaran untuk menginterpretasikan sendiri.

Pembaca tidak diberitahu apa yang akan dilakukan Vio untuk memperbaiki kesalahannya. Pembaca juga tidak diberitahu perjuangan apa yang selanjutnya dilakukan oleh laki-laki pernyair demi negerinya. Tapi inilah keunikan cerpen “Laki-laki dan Kata-kata”, pengarang berusaha mencerdaskan pembaca dengan menyediakan lebih banyak ruang untuk menafsirkan apa yang akan terjadi selanjutnya dan memahami nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerpen. Keunikan lainnya, pengarang mampu menempatkan puisi dalam cerpen dengan tepat pada ruang cerpen yang terbatas.

Kekuatan lain dari cerpen ini adalah pengarang mampu secara halus (tanpa menggurui) mengajak pembaca untuk lebih arif menyikapi tiga hal. Pertama, “orang yang berjuang tulus demi menjalankan gerakan reformasi sekaligus menegakkan demokrasi”. Kedua, “orang yang berjuang dengan ambisi mendapatkan kekuasaan” Ketiga, “orang yang lupa diri setelah mendapatkan jabatan”.

Penulis adalah Wakil Ketua IKAPIP

(Ikatan Keluarga Alumni PPIPM –[Pusat Pengembangan Ilmiah dan Penelitian Mahasiswa) UNP tahun ’07/08.

Dosen Bahasa Inggris FBSS UNP.

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Kampus UNP (GANTO) tahun 2008 (ketika menjadi kolumnis kritik cerpen GANTO)

***************

Laki-laki dan Kata-kata

Oleh Indra Pangean

Vio masih mengingatnya.

Waktu itu, pepohonan seakan berubah jadi bayangan saling kejar mengejar dalam cahaya remang lampu-lampu jalan. Angin yang menjalar melalui jendela memaksanya merapatkan jaket. Vio melirik karcis yang ia pegang. Selasa, 6 November. Pria di sampingnya masih tekun membaca buku yang dipegangnya. Sama seperti tiga jam lalu ketika ia pertama kali duduk di situ. Ia tidak tahu siapa pria itu. Tapi rambutnya seakan mengingatkan pada John Lennon. Gaya lama. “Kamu percaya hidup ini adil?”

Suara itu mengejutkannya. Ia melirik ke samping. Tidak ada orang lain yang masih terjaga. Berarti laki-laki itu bicara padanya.

“Aku tidak,” sambung pria itu lagi sebelum ia sempat memikirkan lagi pertanyaan aneh yang didengarnya. Matanya masih tertuju pada buku, namun ia yakin kali ini lelaki itu bicara padanya. Malam sudah terlalu larut untuk beberapa orang, dan tak ada tujuan yang menyenangkan selain dunia mimpi.

“Tuhan, atau apapun yang membuat hidup ini ada, tidak memperuntukkan hidup untuk sebagian orang,” laki-laki itu menutup buku yang dipegangnya. Pelan. Lalu ia menarik nafas panjang, seakan dengan itu ia telah melepas beban berat yang ia tanggung bertahun-tahun. Wajah lelaki itu bersih, tidak ada cambang maupun kumis. Namun Vio merasakan suatu kekusutan di balik kerapian yang tampak. Suatu kelelahan. Ia memilih diam dan mendengarkan saja apa yang akan keluar dari mulut laki-laki itu. Namun nampaknya ia salah. Tidak satu kata bahkan satu huruf pun sampai ke telinganya. Laki-laki itu hanya memejamkan mata. Lalu hening, hanya ada derum halus mesin mobil yang ia dengar.

***

Vio masih mengingatnya.

Jakarta tidak lagi sebuah kota yang luas. Seakan-akan dunia menyempit menjadi kotak empat kali empat. Laki-laki dan kata-kata lanjutan yang ingin ia dengar membuatnya berubah jadi sosok perasa dan emosional. Ia tidak sempat bertanya mengapa kata-kata itu ada dan dibiarkan menggantung begitu saja. Ia bahkan tidak sempat melihat di mana laki-laki itu turun. Ia melihat hanya kursi kosong di sebelahya ketika ia terjaga. Tidak ada siapa-siapa.

Laki-laki  itu, kata-katanya membayangi setiap langkah Vio. Di kantor, di tempat tidur, di toilet, di mana-mana. Ia sudah mencoba bertanya pada para sopir di pool bus yang ditumpangi. Namun tidak ada yang tahu. Tidak juga dengan John Lennon. Ia juga sudah memutari Jakarta dari ujung ke ujung, kampung ke kampung, lorong ke lorong, namun laki-laki dan kata-katanya itu tidak lagi ditemuinya. Ia menghilang bagai asap. Namun tidak bagi Vio. Lelaki itu melekat di angan-angan. Melarut dalam mimpi.

Setiap kali ia pulang dari kantor, ia tidak langsung menuju rumah. Ratusan ribu ia keluarkan untuk membayar taksi menemaninya berkeliling. Keinginannya cuma satu. Berjumpa dengan laki-laki itu dan bertanya mengapa kata-kata itu ada. Ia menyesal kenapa tidak menanyakan langsung sewaktu laki-laki itu di sampingnya. Ia malah terhasut oleh kantuk celaka dan terbuai dalam mimpi yang kini jarang ia dapati. Sekarang hanya mimpi yang sama tiap malam. Tentang kata-kata dan laki-laki. Laki-laki yang sama. Kata-kata yang sama.

Ia tidak mengerti mengapa ia begitu terobsesi dengan laki-laki dan kata-katanya itu. Teman-temannya pun tidak. Ia hanya merasa bahwa ia harus mendengar lanjutan yang seharusnya ia dengar. Bukan yang lain. Sahabat-sahabat dan orang terdekatnya sudah berulangkali mendengar cerita Vio dan berulangkali pula mereka menganjurkan untuk melupakan saja. Ada yang menganggap ia hanya membuang-buang waktu memikirkan hal itu, ada yang menyarankan supaya ia ambil cuti saja dan menenangkan diri sementara ke tempat lain, ada juga yang malah menyuruhnya memasang iklan di surat kabar. Tapi ia tidak yakin pada dirinya sendiri bahwa ia bisa lupa akan hal itu semudah ia lupa mematikan televisi dan lupa mandi pagi. Ia malah menganggap aneh teman-temannya yang tidak peduli tentang laki-laki itu. Tidak ingin mengetahui lanjutan kata-katanya “Mengapa cuma aku yang peduli?” Pikirnya kemudian.

***

Vio masih mengingatnya.

Hari ini ia berada di Jogja. Ada tugas kantor yang membuatnya hadir di kota ini. Kota yang sedikit lebih tenang dibandingkan kota Jakarta. Ia masih berharap menemukan laki-laki itu walau di tempat jauh sekali pun. Seperti saat ini. Barangkali saja laki-laki itu seorang yang suka jalan-jalan. Barangkali saja pemandangan bangunan yang berbeda, jumlah pepohonan yang agak banyak, dan onthel-onthel yang berkeliaran di Malioboro akan mengantar pada kenangannya bertahun-tahun lalu.

Ia pernah berdiri dan berkoar-koar tentang keadilan, kemanusiaan, dan segala tetek bengek demokrasi. Betapa hebatnya, betapa waktu itu ia merasakan darahnya menggelora menyuarakan hati rakyat, menyuarakan ketidakadilan bersuara, menyuarakan suara koran-koran yang dibredel. Dengan semangat empat lima ia berdiri di atap mobil, berteriak dengan megaphone di depan mahasiswa-mahasiswa yang ikut bersorak demi kata-kata yang keluar dari mulutnya. “Aku adalah pejuang demokrasi,” pikirnya kala itu. Dengan menyandang jaket almamater mengacungkan kepalan tinju, dan berbicara di depan orang banyak, ia merasa telah menjadi pahlawan. Ia merasa telah berjuang demi kata-kata yang kini begitu bebas dikeluarkan orang. Bahkan carut yang tidak lagi terbendung adalah buah perjuangannya. Buah idealismenya.

Ya….ia adalah pejuang, sampai suatu ketika. Ia dipanggil oleh sebuah instansi pemerintah dalam negeri yang tertarik dengan sepak terjangnya memimpin pergerakan mahasiswa, menyuarakan kata, menyuarakan suara akar rumput. Ia diberi pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan untuk seukuran pejuang, lebih banyak dari dua belas bulan kiriman orang tuanya. Begitulah, suara dan kata-kata yang ia perjuangkan menggantung begitu saja, tanpa ujung. Megaphone yang menjadi teman berkoar-koar dulu entah dimana, apakah masih tergeletak di sudut sekre seperti ketika ia tinggalkan. Ia tidak tahu. Ia tidak memperhitungkan perasaan rakyat. Perasaan orang-orang gagap yang begitu ingin mendengar kelanjutan suaranya. Perasaan yang sama, ketika ia mendengar kata laki-laki itu. “Hidup ini tidak adil,” lalu diam, juga tak berujung. Ia tahu sekarang mengapa ia begitu ingin bertemu laki-laki itu. Ia ingin menanyakan kelanjutan kata-katanya. Mengharapkan kepastian kata-kata yang ia dengar. Ia faham sekarang mengapa laki-laki itu menghantui. Laki-laki itu mengejeknya!

***

Vio masih mengingatnya.

Vio melihat kerumunan orang di satu sudut Malioboro. Mungkin ada tukang obat sedang menawarkan dagangan. Orang-orang zaman sekarang memang sedang butuh obat, fikirnya. Ia tidak begitu tertarik. Obat adalah urusan individu, dan setiap individu memiliki penyakit komplek yang butuh obat berbeda pula. Vio masih ada urusan lebih penting yang harus ia selesaikan.

Ku dengar suara – Dari jantung nuraniku

Mencari kata – Mencari bahasa

Mencari manusia – Mencari arti

Kudengar suara – Dari jantung nuraniku

Mencari merdeka – Mencari saudara

Karena rindu akan mimpi – Damai yang abadi

Suara kita – Nyaring kumandang

Namun saying –                Jauh di cakrawala1

Ia tertegun, seakan ia pernah mendengar suara itu, tapi di mana? Suara itu tidak asing baginya. Tak salah lagi. Ia amat sangat kenal dengan suara itu. Intonasi yang berbeda tidak membuat suara itu mudah dilupakan. Ia melihat pada kerumunan orang tempat sumber suara itu berada. John Lennon! Adrenalinnya berpacu demi melihat rambut gaya lama yang selama ini masuk dalam alam bawah sadarnya. Laki-laki itu, penyair jalanan! Ia tidak memegang megaphone dan jaket almamater, tidak pula di atas atap mobil, hanya di salah satu sudut Malioboro. Ia juga tidak jualan obat, namun memberi puisi. Memberi kata-kata.

Tiba-tiba seolah ada magnet menarik kakinya menuju kerumunan tersebut. Langkah kakinya beranjak menuju ke sana. Tergesa. Enam meter lagi. Ia seakan-akan melihat bayangan dirinya sendiri berdiri di pusat keramaian itu. Namun bedanya ia adalah pejuang, bukan penyair. Empat meter lagi, sementara mobil yang melaju ke arahnya cuma berjarak satu setengah meter. Ia tidak peduli, kali ini ia tidak akan melepaskan lelaki itu. Ia akan mempertanyakan ejekannya. Seolah mewakili ejekan orang-orang yang dulu ia tinggalkan. Ia tak lagi peduli ketika bumper depan mobil itu menghantam keras tubuhnya dan membuat ia terlempar jauh ke atas trotoar. Ia hanya ingin bertanya kenapa ia masih mengingat laki-laki itu. Saat cahaya yang masuk ke matanya perlahan meredup dan telinganya sayup mendengar orang banyak berteriak. Ia tidak peduli. Karena sekarang ia sudah tahu jawaban pertanyaannya sendiri. Ia sudah tahu kelanjutan kata laki-laki itu.

”Hidup memang tidak adil!”

Patenggangan, 30 November 2007

Catatan:

1. Puisi Hersi Setiawan berjudul Suara dalam antologi “Inilah Pamflet itu : 2007″

Penulis Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris BP 2004

Cerpen Dikutip dari Koran Kampus Universitas Negeri Padang (GANTO)



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: