MENINGKATKAN KINERJA ORGANISASI
MELALUI TEAMWORK

(Bagian II dari Tiga Tulisan)
Oleh: Leni Marlina, S.S

Kita sering merasa unggul jika bekerja sendiri-sendiri, tetapi lemah jika bekerjasama dalam tim.
Padahal pepatah Minang mengatakan:
duduk surang basapik-sampik, duduk basamo balapang-lapang”

Pengantar
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak mahasiswa maupun lulusan Perguruan Tinggi belum memiliki kemampuan bekerja secara kolaboratif dalam suatu teamwork yang solid yang seharusnya sudah dimiliki ketika mereka ingin memasuki dunia kerja. Untuk itu, pengembangan kemampuan bekerja secara kolaboratif atau mengoptimalkan kemampuan teamwork menjadi suatu keharusan dan kebutuhan bagi proses pembelajaran di Perguruan Tinggi baik dalam proses belajar formal maupun dalam organisasi mahasiswa (Asrori, 2006).

Pada dasarnya, organisasi didirikan untuk mengatasi ketidakmampuan seseorang secara sendirian mencapai tujuan yang diinginkan (Muhyadi, 2006). Oleh karena itu orang bergabung dengan orang lain dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Ini berarti bahwa di dalam setiap organisasi pasti dijumpai banyak orang dan pembagian kerja mutlak harus dilakukan. Di satu sisi, semua pekerjaan dibagi habis sehingga tidak ada satupun pekerjaan yang tersisa dan pada sisi yang lain, tidak ada satupun anggota yang tidak jelas tugasnya.
Prinsip the right man for the right job juga harus diperhatikan.  Pembagian kerja dilakukan bukan semata-mata disebabkan ketidakmampuan seorang pimpinan secara sendirian melaksanakan seluruh pekerjaan yang ada tetapi juga karena alasan spesialisasi. Mungkin saja seorang pimpinan mampu menangani dua-tiga jenis pekerjaan sekaligus akan tetapi hasil yang lebih baik akan diperoleh jika sebagian dari pekerjaan tersebut diserahkan kepada orang lain yang memang ahli dalam bidang tersebut.

Konsekuensi pembagian kerja ialah diberikannya wewenang dan tuntutan tanggung jawab yang sepadan sesuai  tugas yang diberikan.  Tugas saja tanpa wewenang yang cukup tidak mungkin dilaksanakan, sebaliknya pelaksanaan tugas yang tidak dituntut tanggungjawab cenderung menyimpang. Secara periodik, pembagian kerja perlu dievaluasi untuk memastikan ketepatannya. Aspek profesionalisme hendaknya menjadi pertimbangan utama, namun demikian tidak berarti faktor-faktor lain yang bersifat non teknis boleh diabaikan seperti rasa keadilan, kebosanan anggota, dan lain-lain. Pembagian kerja yang tepat akan membantu kelancaran kegiatan organisasi. Dan untuk mensukseskan kegiatan organisasi diperlukan teamwork.Dalam dunia usaha maupun organisasi, penggunaan teamwork seringkali merupakan solusi terbaik untuk mencapai suatu kesuksesan. Teamwork yang solid akan memudahkan manajemen dalam mendelegasikan tugas-tugas organisasi. Namun demikian untuk membentuk sebuah tim yang solid dibutuhkan komitment tinggi dari manajemen. Hal terpenting adalah bahwa teamwork harus dilihat sebagai suatu sumber daya yang harus dikembangkan dan dibina sama seperti sumber daya lain yang ada dalam perusahaan. Proses pembentukan, pemeliharaan dan pembinaan teamwork harus dilakukan atas dasar kesadaran penuh dari tim tersebut sehingga segala sesuatu berjalan secara normal sebagai suatu aktivitas sebuah teamwork, meskipun pada kondisi tertentu manajemen dapat melakukan intervensi.

Apa yang Dimaksud Dengan Teamwork?
Teamwork, secara umum, dapat didefinisikan sebagai kumpulan individu yang bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan. Kumpulan individu-individu tersebut memiliki aturan dan mekanisme kerja yang jelas serta saling tergantung antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu sekumpulan orang yang bekerja dalam satu ruangan, bahkan di dalam satu proyek, belum tentu merupakan sebuah teamwork. Terlebih lagi jika kelompok tersebut dikelola secara otoriter, timbul faksi-faksi di dalamnya, dan minimnya interaksi antar anggota kelompok.

Ketika seseorang bekerja didalam kelompok (tim), akan ada dua isu yang muncul. Pertama adalah adanya tugas-tugas (tasks) dan masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan.  Hal ini seringkali merupakan topik utama yang menjadi perhatian tim.  Kedua adalah proses yang terjadi di dalam teamwork itu sendiri, misalnya bagaimana mekanisme kerja atau aturan main sebuah tim sebagai suatu unit kerja dari perusahaan, proses interaksi di dalam tim, dan lain-lain.  Dengan kata lain proses menunjuk pada semangat kerjasama, koordinasi, prosedur yang harus dilakukan dan disepakati seluruh anggota, dan hal-hal lain yang berguna untuk menjaga keharmonisan hubungan antar individu dalam kelompok itu. Tanpa memperhatikan proses maka sebuah teamwork tidak akan memiliki nilai apa-apa bagi perusahaan dan hanya akan menjadi sumber masalah bagi perusahaan dalam pembentukan sebuah teamwork.  Sebaliknya jika proses tersebut ada dalam sekumpulan orang yang bekerjasama, maka performance mereka akan meningkat karena akan mendapat dukungan secara teknis maupun moral.

Mengapa Teamwork Diperlukan?
Teamwork merupakan sarana yang sangat baik dalam menggabungkan berbagai talenta dan dapat memberikan solusi inovatif  suatu pendekatan yang mapan. Selain itu ketrampilan dan pengetahuan yang beranekaragam yang dimiliki oleh anggota kelompok juga merupakan nilai tambah yang membuat teamwork lebih menguntungkan jika dibandingkan seorang individu yang brilian sekalipun.
Sebuah tim dapat dilihat sebagai suatu unit yang mengatur dirinya sendiri. Rentangan ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki anggota dan “self monitoring” yang ditunjukkan oleh masing-masing tim memungkinkannya untuk diberikan suatu tugas dan tanggungjawab. Bahkan ketika suatu masalah tersebut dapat diputuskan oleh satu orang saja, melibatkan teamwork akan memberikan beberapa keuntungan. Keuntungan tersebut adalah: pertama keputusan yang dibuat secara bersama-sama akan meningkatkan motivasi tim dalam pelaksanaanya. Kedua, keputusan bersama akan lebih mudah dipahami oleh tim dibandingkan jika hanya mengandalkan keputusan dari satu orang saja.

Bila dilihat dari perspektif individu, dengan masuknya ia kedalam suatu kelompok (tim) maka hal tersebut akan  menambah semangat juang/ motivasi  untuk mencapai suatu prestasi yang mungkin tidak akan pernah dapat dicapai seorang diri oleh individu tersebut. Hal ini dapat terjadi karena tim mendorong setiap anggotanya untuk memiliki wewenang dan tanggungjawab sehingga meningkatkan harga diri setiap orang.
Bagaimana Siklus Hidup Sebuah Teamwork?
Secara umum perkembangan suatu tim dapat dibagi dalam 4 tahap sebagai berikut (Papu, 2006):
1. Forming
Forming adalah tahapan dimana para anggota setuju untuk bergabung dalam suatu tim. Karena kelompok baru  dibentuk maka setiap orang membawa nilai-nilai, pendapat dan cara kerja sendiri-sendiri. Konflik sangat jarang terjadi, setiap orang masih sungkan, malu-malu, bahkan seringkali ada anggota yang merasa gugup. Kelompok cenderung belum dapat memilih pemimpin (kecuali tim yang sudah dipilih ketua kelompoknya terlebih dahulu).
2. Storming
Storming adalah tahapan dimana kekacauan mulai timbul di dalam tim. Pemimpin yang telah dipilih seringkali dipertanyakan kemampuannya dan anggota kelompok tidak ragu-ragu untuk mengganti pemimpin yang dinilai tidak mampu. Faksi-faksi mulai terbentuk, terjadi pertentangan karena masalah-masalah pribadi, semua ngotot dengan pendapat masing-masing. Komunikasi yang terjadi sangat sedikit karena masing-masing orang tidak mau lagi menjadi pendengar dan sebagian lagi tidak mau berbicara secara terbuka.
3. Norming
Norming adalah tahapan dimana individu-individu dan sub-group yang ada dalam tim mulai merasakan keuntungan bekerja bersama dan berjuang untuk menghindari tim tersebut dari kehancuran (bubar). Karena semangat kerjasama sudah mulai timbul, setiap anggota mulai merasa bebas untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya kepada seluruh anggota tim. Selain itu semua orang mulai mau menjadi pendengar yang baik. Mekanisme kerja dan aturan-aturan main ditetapkan dan ditaati seluruh anggota.
4. Performing
Performing  merupakan titik kulminasi dimana tim sudah berhasil membangun sistem yang memungkinkannya untuk dapat bekerja secara produktif dan efisien. Pada tahap ini keberhasilan tim akan terlihat dari prestasi yang ditunjukkan.
Apa Ketrampilan yang Diperlukan dalam Membangun Teamwork?
Menurut  Papu (2006), ada dua ketrampilan utama yang seharusnya dimiliki oleh anggota sebuah teamwork, yaitu:

1. Ketrampilan Managerial
Ketrampilan managerial (Managerial Skills) mencakup kemampuan dalam membuat rencana kerja, menentukan tujuan, memantau kinerja, memonitor perkembangan dan memastikan pekerjaan telah dilakukan secara benar, dan lain-lain.
2. Ketrampilan Interpersonal
Ketrampilan interpersonal (Interpersonal Skills) mencakup kemampuan berkomunikasi, saling menghargai pendapat orang lain dan kemampuan menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain.
Menurut Schmitt dan  Brown (2001), ada lima cara penting untuk bekerjasama dalam sebuah teamwork yang baik yaitu:

  1. Ketahuilah kekuatan masing-masing orang lain atau rekan kerjadan percayailah mereka.
  2. Nikmati interaksi yang terjadi dalam organisasi, berilah kritik yang relevan membangun.
  3. Milikilah elemen pemikir, pelaksana dan penyeimbang dalam sebuah grup, supaya ada ide baru yang dapat dilaksanakan dan ada orang yang dapat meredakan pergesekan.
  4. Pergunakanlah saat sepinya pekerjaan untuk mempersiapkan diri secara lebih baik menyambut ramainya pekerjaan.
  5. Rayakanlah keberhasilan tetapi janganlah menjadi cepat puas.

Dengan menjadi anggota suatu organisasi maka secara tidak langsung Anda sudah menempatkan diri menjadi anggota sebuah teamwork. Nah, sudahkah Anda mempersiapkan diri dengan memiliki ketrampilan-ketrampilan seperti yang disebutkan di atas?

(Bersambung pada edisi III)

Penulis adalah Wakil Ketua IKAPIP
(Ikatan Keluarga Alumni PPIPM UNP tahun ’07/08.
Dosen Bahasa Inggris FBSS UNP.
Tulisan ini sudah pernah disampaikan dalan acara Training Pengurus PPIPM (Pusat Penalaran Ilmiah dan Penelitian Mahasiswa) UNP
dan pernah dimuat di koran kampus UNP (GANTO). Tulisan ini juga bagian dari makalah penulis yang terdaftar di pustaka pusat Universitas Negeri Padang Tahun 2008.

MENINGKATKAN KINERJA ORGANISASI

MELALUI TEAMWORK

(Bagian II dari Tiga Tulisan)

Oleh: Leni Marlina, S.S

Kita sering merasa unggul jika bekerja sendiri-sendiri, tetapi lemah jika bekerjasama dalam tim.

Padahal pepatah Minang mengatakan: duduk surang basapik-sampik, duduk basamo balapang-lapang”

Pengantar

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak mahasiswa maupun lulusan Perguruan Tinggi belum memiliki kemampuan bekerja secara kolaboratif dalam suatu teamwork yang solid yang seharusnya sudah dimiliki ketika mereka ingin memasuki dunia kerja. Untuk itu, pengembangan kemampuan bekerja secara kolaboratif atau mengoptimalkan kemampuan teamwork menjadi suatu keharusan dan kebutuhan bagi proses pembelajaran di Perguruan Tinggi baik dalam proses belajar formal maupun dalam organisasi mahasiswa (Asrori, 2006).

Pada dasarnya, organisasi didirikan untuk mengatasi ketidakmampuan seseorang secara sendirian mencapai tujuan yang diinginkan (Muhyadi, 2006). Oleh karena itu orang bergabung dengan orang lain dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Ini berarti bahwa di dalam setiap organisasi pasti dijumpai banyak orang dan pembagian kerja mutlak harus dilakukan. Di satu sisi, semua pekerjaan dibagi habis sehingga tidak ada satupun pekerjaan yang tersisa dan pada sisi yang lain, tidak ada satupun anggota yang tidak jelas tugasnya.

Prinsip the right man for the right job juga harus diperhatikan.  Pembagian kerja dilakukan bukan semata-mata disebabkan ketidakmampuan seorang pimpinan secara sendirian melaksanakan seluruh pekerjaan yang ada tetapi juga karena alasan spesialisasi. Mungkin saja seorang pimpinan mampu menangani dua-tiga jenis pekerjaan sekaligus akan tetapi hasil yang lebih baik akan diperoleh jika sebagian dari pekerjaan tersebut diserahkan kepada orang lain yang memang ahli dalam bidang tersebut.

Konsekuensi pembagian kerja ialah diberikannya wewenang dan tuntutan tanggung jawab yang sepadan sesuai  tugas yang diberikan.  Tugas saja tanpa wewenang yang cukup tidak mungkin dilaksanakan, sebaliknya pelaksanaan tugas yang tidak dituntut tanggungjawab cenderung menyimpang. Secara periodik, pembagian kerja perlu dievaluasi untuk memastikan ketepatannya. Aspek profesionalisme hendaknya menjadi pertimbangan utama, namun demikian tidak berarti faktor-faktor lain yang bersifat non teknis boleh diabaikan seperti rasa keadilan, kebosanan anggota, dan lain-lain. Pembagian kerja yang tepat akan membantu kelancaran kegiatan organisasi. Dan untuk mensukseskan kegiatan organisasi diperlukan teamwork.

Dalam dunia usaha maupun organisasi, penggunaan teamwork seringkali merupakan solusi terbaik untuk mencapai suatu kesuksesan. Teamwork yang solid akan memudahkan manajemen dalam mendelegasikan tugas-tugas organisasi. Namun demikian untuk membentuk sebuah tim yang solid dibutuhkan komitment tinggi dari manajemen. Hal terpenting adalah bahwa teamwork harus dilihat sebagai suatu sumber daya yang harus dikembangkan dan dibina sama seperti sumber daya lain yang ada dalam perusahaan. Proses pembentukan, pemeliharaan dan pembinaan teamwork harus dilakukan atas dasar kesadaran penuh dari tim tersebut sehingga segala sesuatu berjalan secara normal sebagai suatu aktivitas sebuah teamwork, meskipun pada kondisi tertentu manajemen dapat melakukan intervensi.

Apa yang Dimaksud Dengan Teamwork?

Teamwork, secara umum, dapat didefinisikan sebagai kumpulan individu yang bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan. Kumpulan individu-individu tersebut memiliki aturan dan mekanisme kerja yang jelas serta saling tergantung antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu sekumpulan orang yang bekerja dalam satu ruangan, bahkan di dalam satu proyek, belum tentu merupakan sebuah teamwork. Terlebih lagi jika kelompok tersebut dikelola secara otoriter, timbul faksi-faksi di dalamnya, dan minimnya interaksi antar anggota kelompok.

Ketika seseorang bekerja didalam kelompok (tim), akan ada dua isu yang muncul. Pertama adalah adanya tugas-tugas (tasks) dan masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan.  Hal ini seringkali merupakan topik utama yang menjadi perhatian tim.  Kedua adalah proses yang terjadi di dalam teamwork itu sendiri, misalnya bagaimana mekanisme kerja atau aturan main sebuah tim sebagai suatu unit kerja dari perusahaan, proses interaksi di dalam tim, dan lain-lain.  Dengan kata lain proses menunjuk pada semangat kerjasama, koordinasi, prosedur yang harus dilakukan dan disepakati seluruh anggota, dan hal-hal lain yang berguna untuk menjaga keharmonisan hubungan antar individu dalam kelompok itu. Tanpa memperhatikan proses maka sebuah teamwork tidak akan memiliki nilai apa-apa bagi perusahaan dan hanya akan menjadi sumber masalah bagi perusahaan dalam pembentukan sebuah teamwork.  Sebaliknya jika proses tersebut ada dalam sekumpulan orang yang bekerjasama, maka performance mereka akan meningkat karena akan mendapat dukungan secara teknis maupun moral.

Mengapa Teamwork Diperlukan?

T

eamwork merupakan sarana yang sangat baik dalam menggabungkan berbagai talenta dan dapat memberikan solusi inovatif  suatu pendekatan yang mapan. Selain itu ketrampilan dan pengetahuan yang beranekaragam yang dimiliki oleh anggota kelompok juga merupakan nilai tambah yang membuat teamwork lebih menguntungkan jika dibandingkan seorang individu yang brilian sekalipun.

Sebuah tim dapat dilihat sebagai suatu unit yang mengatur dirinya sendiri. Rentangan ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki anggota dan “self monitoring” yang ditunjukkan oleh masing-masing tim memungkinkannya untuk diberikan suatu tugas dan tanggungjawab. Bahkan ketika suatu masalah tersebut dapat diputuskan oleh satu orang saja, melibatkan teamwork akan memberikan beberapa keuntungan. Keuntungan tersebut adalah: pertama keputusan yang dibuat secara bersama-sama akan meningkatkan motivasi tim dalam pelaksanaanya. Kedua, keputusan bersama akan lebih mudah dipahami oleh tim dibandingkan jika hanya mengandalkan keputusan dari satu orang saja.

Bila dilihat dari perspektif individu, dengan masuknya ia kedalam suatu kelompok (tim) maka hal tersebut akan  menambah semangat juang/ motivasi  untuk mencapai suatu prestasi yang mungkin tidak akan pernah dapat dicapai seorang diri oleh individu tersebut. Hal ini dapat terjadi karena tim mendorong setiap anggotanya untuk memiliki wewenang dan tanggungjawab sehingga meningkatkan harga diri setiap orang.

Bagaimana Siklus Hidup Sebuah Teamwork?

Secara umum perkembangan suatu tim dapat dibagi dalam 4 tahap sebagai berikut (Papu, 2006):

1. Forming

Forming adalah tahapan dimana para anggota setuju untuk bergabung dalam suatu tim. Karena kelompok baru  dibentuk maka setiap orang membawa nilai-nilai, pendapat dan cara kerja sendiri-sendiri. Konflik sangat jarang terjadi, setiap orang masih sungkan, malu-malu, bahkan seringkali ada anggota yang merasa gugup. Kelompok cenderung belum dapat memilih pemimpin (kecuali tim yang sudah dipilih ketua kelompoknya terlebih dahulu).

2. Storming

Storming adalah tahapan dimana kekacauan mulai timbul di dalam tim. Pemimpin yang telah dipilih seringkali dipertanyakan kemampuannya dan anggota kelompok tidak ragu-ragu untuk mengganti pemimpin yang dinilai tidak mampu. Faksi-faksi mulai terbentuk, terjadi pertentangan karena masalah-masalah pribadi, semua ngotot dengan pendapat masing-masing. Komunikasi yang terjadi sangat sedikit karena masing-masing orang tidak mau lagi menjadi pendengar dan sebagian lagi tidak mau berbicara secara terbuka.

3. Norming

Norming adalah tahapan dimana individu-individu dan sub-group yang ada dalam tim mulai merasakan keuntungan bekerja bersama dan berjuang untuk menghindari tim tersebut dari kehancuran (bubar). Karena semangat kerjasama sudah mulai timbul, setiap anggota mulai merasa bebas untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya kepada seluruh anggota tim. Selain itu semua orang mulai mau menjadi pendengar yang baik. Mekanisme kerja dan aturan-aturan main ditetapkan dan ditaati seluruh anggota.

4. Performing

Performing  merupakan titik kulminasi dimana tim sudah berhasil membangun sistem yang memungkinkannya untuk dapat bekerja secara produktif dan efisien. Pada tahap ini keberhasilan tim akan terlihat dari prestasi yang ditunjukkan.

Apa Ketrampilan yang Diperlukan dalam Membangun Teamwork?

Menurut  Papu (2006), ada dua ketrampilan utama yang seharusnya dimiliki oleh anggota sebuah teamwork, yaitu:

1. Ketrampilan Managerial

Ketrampilan managerial (Managerial Skills) mencakup kemampuan dalam membuat rencana kerja, menentukan tujuan, memantau kinerja, memonitor perkembangan dan memastikan pekerjaan telah dilakukan secara benar, dan lain-lain.

2. Ketrampilan Interpersonal

Ketrampilan interpersonal (Interpersonal Skills) mencakup kemampuan berkomunikasi, saling menghargai pendapat orang lain dan kemampuan menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain.

Menurut Schmitt dan  Brown (2001), ada lima cara penting untuk bekerjasama dalam sebuah teamwork yang baik yaitu:

1. Ketahuilah kekuatan masing-masing orang lain atau rekan kerjadan percayailah mereka.

2. Nikmati interaksi yang terjadi dalam organisasi, berilah kritik yang relevan membangun.

3. Milikilah elemen pemikir, pelaksana dan penyeimbang dalam sebuah grup, supaya ada ide baru yang dapat dilaksanakan dan ada orang yang dapat meredakan pergesekan.

4. Pergunakanlah saat sepinya pekerjaan untuk mempersiapkan diri secara lebih baik menyambut ramainya pekerjaan.

5. Rayakanlah keberhasilan tetapi janganlah menjadi cepat puas.

Dengan menjadi anggota suatu organisasi maka secara tidak langsung Anda sudah menempatkan diri menjadi anggota sebuah teamwork. Nah, sudahkah Anda mempersiapkan diri dengan memiliki ketrampilan-ketrampilan seperti yang disebutkan di atas?  (Bersambung pada edisi III)

Penulis adalah Wakil Ketua IKAPIP

(Ikatan Keluarga Alumni PPIPM UNP tahun ’07/08.

Dosen Bahasa Inggris FBSS UNP.

Tulisan ini sudah pernah disampaikan dalan acara Training Pengurus PPIPM (Pusat Penalaran Ilmiah dan Penelitian Mahasiswa) UNP

dan pernah dimuat di koran kampus UNP (GANTO). Tulisan ini juga bagian dari makalah penulis yang terdaftar di pustaka pusat Universitas Negeri Padang Tahun 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: