KRITIK CERPEN INSOMNIA:

Imperialisme Bahasa dan Teknologi: Ancaman atau Peluang?

Oleh Leni Marlina S.S.

“Malu aku jadi orang Indonesia”. Meminjam judul puisi sastrawan besar Taufik Ismail, itulah makna yang tersirat dari cerpen “Berebut Malam”. Cerpen karya Meiriza Paramitha ini merupakan kritikan atas matinya kebanggaan dan kreativitas masyarakat Indonesia dengan bahasa nasionalnya sendiri.

Insomnia, sebuah penyakit yang diakibatkan tidak setianya mata untuk tidur di saat tubuh membutuhkan istirahat agar tenaga kembali pulih. Banyak orang mengatakan bahwa imsomnia adalah ancaman penyakit. Tapi, ada juga yang memanfaatkannya sebagai peluang untuk melaksanakan kegiatan fositif.

Seperti halnya yang dilakukan tokoh Aku, karena tidak bisa tidur dia membuka digital book. Ternyata digital book membuat matanya perih dan berhenti membaca. Lalu dilanjutkan dengan mengakses internet dan chatting yang menggunakan bahasa Inggris. Akhirnya pergi ke satu-satu pustaka tua dan reot yang buka 24 jam.

Dalam pertarungan kebudayaan, para pelaku tidak lagi berhadapan langsung dengan kondisi fisik. Perang kebudayaan dilakukan melalui media cetak dan elektronik serta difasilitasi teknologi informasi. Imperialisme teknologi sudah menyebar di mana-mana. Kita pun maklum bahwa media massa, khususnya internet, di seluruh dunia ini didominasi oleh bahasa Inggris. Tanpa penguasaan bahasa Inggris, kita tidak mungkin dapat berinteraksi secara maksimal dalam forum-forum internasional. Dengan berat hati, kita akui bahwa bahasa Inggris kini merupakan media Imperalisme kebudayaan. Apakah ini sebuah sebuah ancaman atau peluang terhadap kelestarian Bahasa Indonesia (BI)?

Abdul Gafar, pakar bahasa Indonesia, pernah mengeluh bahwa reputasi bahasa Indonesia kini sudah redup. Dominasi bahasa Inggris telah membangun citra global bahwa modernisasi identik dengan bahasa Inggris. Dominasi bahasa Inggris terbukti dengan semaraknya pembelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah (terpencil) sebagai mata pelajaran muatan lokal, mengalahkan citra beberapa bahasa daerah. Selain itu, buku teks berbahasa Inggris selama ini mendominasi perguruan kita. Jurnal-jurnal dalam berbagai bidang ilmu yang paling bergengsi, paling banyak dikutip di dunia ini ditulis dalam bahasa Inggris. Para ilmuwan lebih suka mengutip karyanya yang dipublikasikan dalam bahasa Inggris.

Teknologi canggih seperti internet sekalipun punya keterbatasan. Pada saat tokoh Ayu asyik mengakses internet, tiba-tiba listrik mati. Nah, bagaimana kalau suatu saat, semangat dan kebanggan masyarakat Indonesia mati terhadap bahasa nasionalnya? Apakah hanya dengan mengumpat dan menyesal akan teratasi? Apakah hanya dengan mengandalkan sekelompok kecil pemerhati bahasa Indonesia akan memberikan sebuah solusi? Demikian maksud penulis cerpen untuk menyadarkan kita bersama.

Bahasa adalah piranti untuk bernalar, sehingga penguasaan bahasa seyogianya identik dengan penguasaan dan peningkatan daya nalar atau pola pikir. Apakah dersanya dominasi bahasa Inggris akan mengancam kelestariaan bahasa Indonesia? Lalu apa solusi yang harus kita lakukan ? jawabannya adalah ”Setia Bahasa”.

Menurut profesor Chaedar Alwasilah, setia bahasa merupakan kecendrungan terhadap bahasa sehingga ingin menguasainya sebagai alat berpikir dan komunikasi. Kesetiaan ini tidaklah bermakna adanya kebencian terhadap bahasa lain. Seorang individu dalam masyarakat miultilingual mungkin setia terhadap lebih dari satu bahasa, yakni bahasa ibunya, bahasa nasional, dan bahasa asing. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana caranya agar masyarakat Indonesia tidak meninggalkan bahasanya dan tidak gagap dengan teknologi dan bahasa asing yang ingin dikuasainya.

Kita perlu mengantisipasi keberlangsungan hidup BI melalui peningkatan citra. Peningkatan citra bahasa tidaklah cukup dengan penyelenggaraan seminar, kongres, kampanye kebahasaan, seperti yang dirintis oleh Perkumpulan Pelestari Bahasa Indonesia dalam cerpen ini. Tapi jalan yang paling meyakinkan untuk meningkatkan citra BI di mata dunia adalah dengan memberdayakanya sebagai bahasa ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan modern. Di samping itu, pendekatan kritis perlu ditempuh karena kita sebagai masyarakat komunikatif dan terdidik tidak melakukan kritik lewat revolusi dan kekerasan, melainkan lewat argumentasi yakni diskursus dan kritik demi terbangunya masyarakat yang otonom dan dewasa.

Penulis adalah Wakil Ketua IKAPIP

(Ikatan Keluarga Alumni PPIPM –[Pusat Pengembangan Ilmiah dan Penelitian Mahasiswa) UNP tahun ’07/08.

Dosen Bahasa Inggris FBSS UNP.

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Kampus UNP (GANTO) tahun 2008 (ketika menjadi kolumnis kritik cerpen GANTO)

*******

INSOMNIA

Oleh Meiriza Paramita

Insomnia. Ah, mungkin aku terkena penyakit itu. Kata orang, ciri-ciri orang yang terkena insomnia adalah tidak bisa memejamkan matanya barang sepicing pun. Persis sama dengan yang kualami malam ini. Ketika kupaksakan menutup mata, di sana memang kelam. Tapi tanpa sepengetahuanku, mata ini kembali membuka. Uh, kadang ini membuatku sebal.

Aku bangkit dari tempat tidur. Aku harus mencari cara agar mengantuk. Aha.. baca buku! Ya, membaca buku merupakan rutinitas yang mudah membuat mata mengantuk. Setidaknya begitulah menurutku. Di mana bukuku. Oh, tidak… aku sudah membakar seluruh buku. Seluruh benda bernama buku di rumah ini telah kuhanguskan. Sudah seperempat abad lewat dari milenium ketiga. Teknologi baru timbul seperti jamur berkembang biak di musim hujan, aku jarang baca buku. Karena sudah ada buku digital. Tinggal pencet ini dan itu, aku sudah bisa membaca buku.

Kadang aku menggunakan internet untuk mencari bahan kuliah yang kuinginkan. Di sana semuanya lengkap. Ya, zaman sekarang mana ada orang yang mau repot. Membolak-balik buku adalah kegiatan yang melelahkan dan memusingkan. Mungkin karena itulah para ilmuan berlomba-lomba menciptakan teknologi. Toh, teknologi memang untuk membantu dan memudahkan segala urusan manusia, bukan?

Akhirnya, buku asli termarginalkan. Karena dengan sebuah benda bernama chip, ribuan eksemplar buku telah dapat dikonsumsi siapa saja. Jadi bukan salahku membakar semua buku-buku asli. Toh isinya sudah kusalin ke dalam buku digital.Tidak ada yang boleh memarahiku.

Oke, sekarang tidak ada lagi buku yang harus kubaca. Dan segera kurampas buku digital dari kantungnya. Aku mulai membaca. Oh, layar buku digital malah membuat mata perih. Hilanglah sudah semangatku untuk mengantuk. Walaupun mataku perih, lalu kukatup erat, tetap saja ia menolak untuk tidur. Apa yang salah denganku?

“Shit!!” Aku teriak. Baru kusadari. Aku benar-benar tidak bisa tidur. Ruang kamar yang remang tetap tidak membantu. Aku bangkit ke meja belajar. Di sana ada notebook kesayanganku. Ukurannya sangat tipis. Satu koma sembilan sentimeter. Walaupun ini model lama di masaku, tapi ini kubeli dengan keringat sendiri. Setelah satu bulan bekerja sebagai desainer web.

Segera aku menyibukkan diri dengan browsing internet. Menyapa teman-teman mayaku yang banyak jumlahnya. Walau sekadar menyampaikan pesan, ‘Hi, how are you? when we will chat again?’

Lalu aku membuka situs education. Pasti di sana ada info tentang teknologi terbaru yang mungkin nanti akan kubeli. Tentunya dengan keringatku. Kan malu, bila masih harus menadah sama orang tua. Setelah sepuluh menit mengarungi situs ini, aku merasa bosan. Aku ingin tidur. Aku sangat lelah.

Aha…dengan sigap kukunjungi situs healthy life. Konon, katanya di sana adalah perkumpulan dokter spesialis yang mau menerima keluhan setiap pengunjung situs. Setelah memilih dokter yang tepat, langsung saja kuketikkan masalah. Penyakit insomnia yang sangat mengganggu. Si dokter langsung menyuruhku mengaktifkan webcam.

Ok Dokter, can you see me now?” tanyaku. Saat ini bahasa Inggris sangat populer. Kadang-kadang bila ada teman maya yang mengajakku menggunakan bahasa Indonesia, aku keteteran. Kalau bahasa daerah? Kalau ada yang mengajakku berbicara bahasa daerah, aku mengaku kalah dan mengibarkan bendera putih. Tepat di wajahnya.

“Baiklah. Saya dokter Indonesia. Kebetulan saya anggota Perkumpulan Pelestari Bahasa Indonesia. Jadi, bisakah kita berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar?”

“Ouch!!” teriakku. Dan bisa kulihat mata si dokter melotot. Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam. Kenapa aku bisa konsultasi dengan dokter yang jago berbahasa Indonesia. “Ba.. baiklah,” jawabku akhirnya.

“Kamu mengaku insomnia? Ya, saya bisa melihat ada bulatan hitam di sekitar matamu. Sudah berapa hari matamu tidak mau tidur?” Tanya sang dokter.

“Sudah… emm.. about… eh, sekitar a week. Oh, maksudnya sekitar satu minggu,” gagap, lidahku gagap berbahasa Indonesia.

“Ehm, apa saudara memiliki masalah pribadi akhir-akhir ini. Maksud saya, apakah Anda banyak pikiran akhir-akhir ini?” Tanya si dokter berhati-hati. “Maaf, saya bukan bermaksud mencampuri urusan pribadi Anda. Tapi dari banyak kasus, urusan pribadi yang terlalu menumpuk di pikiran akan mengganggu Anda untuk isirahat dengan tenang.”

No.. eh, tidak. Saya tidak punya pribadi masalah, ahm, masalah pribadi,” bantahku.

“Atau Anda sedang merindukan sesuatu,” tanya si dokter lagi. Aku terdiam. Dan menggeleng. Si dokter agaknya mengamati setiap gerakku. Sepertinya dia ragu dengan gelenganku. Uh, biarlah.

Klik…

Listrik padam. Kupukulkan tanganku ke meja. Marah.

“Shit!!” teriakku.

Semodern-modernnya zaman, tetap saja mati lampu. Memuakkan. Apakah negara kita ini tidak malu dengan negara lainnya yang akan berpikir seribu kali untuk mematikan listrik? Apa mereka tidak tahu, mati listrik beberapa detik akan mengganggu perekonomian negara. Berapa rupiah yang hilang ketika industri-industri besar berhenti beroperasi, walaupun listrik mati hanya satu detik.

Gelap, semuanya gelap. Aku beranjak ke kasur.

Tiba-tiba kata-kata sang dokter yang belum sempat kutahu namanya itu terngiang di telinga. Apakah benar, aku merindukan sesuatu? Ya, aku rindu sesuatu. Aku rindu tidur.

Dasar dokter bodoh. Tentu saja seorang insomnia rindu untuk tidur. Rindu bermimpi. Oh Tuhan, datangkanlah sesuatu yang bisa membuatku tertidur. Aku tidak akan marah bila kau beri aku mimpi buruk. Yang penting aku bisa tidur!!

Tidak, tidak mungkin aku hanya diam. Aku harus berusaha. Buku asli, aku harus mencari buku Indonesia asli. Hanya itu yang bisa membuatku tertidur, mungkin.

Kamar tiba-tiba terang.

Listrik telah hidup. Jam dindingku –yang lagi-lagi digital– menunjukkan angka 02:06 am. Mataku masih menganga nyalang.

Ting… Tong…

Notebook ku berbunyi riang. Ternyata belum ku off kan. Dan sebuah pesan datang. Dari si dokter ternyata. Dia mengatakan, sebaiknya aku mengkonsumsi obat tidur. Ya, aku mengerti Dok.

Ternyata ada pesan tambahan di bawahnya.

Untuk mempermudah pelafalan bahasa Indonesia, saudara harus sering-sering membaca buku asli. Jangan buku digital. Karena buku digital disajikan dalam bahasa Inggris. Hidup Bahasa Indonesia!!

Buku asli? Aku bertanya-tanya. Ya, mungkin aku harus menemukan buku asli. Selain untuk membuatku mengantuk, buku asli juga bisa membuat bahasa Indonesiaku kembali lancar.

Setelah kupikir-pikir, aku kasihan dengan orang-orang Perkumpulan Pelestari Bahasa Indonesia. Di internet diberitakan, jumlah mereka hanya sekitar 100 orang. Menyebar di seluruh bagian Indonesia. Mereka aktif mengadakan seminar-seminar bahasa Indonesia. Tapi, sangat jarang orang yang mau mengikutinya kecuali untuk mendapatkan sertifikat. Sedangkan untuk pendanaan, mereka patungan.

Pasti menyenangkan. Bisa kubayangkan, ketika aku berkumpul dengan mereka, mereka menyambutku dengan kata “selamat datang saudaraku..”

Inikah yang ku rindukan selama ini? Benarkah aku rindu untuk kembali ke bahasaku? Ke asalku. Duniaku. Menjamah kembali warisan nenek moyangku? Tapi orang yang berbahasa nenek moyang sering dianggap tidak maju. Dikucilkan karena tidak bisa bergaul dengan orang asing dari negara maju.

“Ya, mereka di tertawakan. Diejek dan dihina. Dianggap manusia pedalaman yang tidak akan bisa mengoperasikan notebook, buku digital, dan banyak lagi. Karena untuk mengoperasikannya harus mahir bahasa inggris,” cerita satu sisi hatiku.

“Tapi bukan berarti harus melupakan bahasa nenek moyang kan? Bukankah menguasai bahasa Inggris hanya sebagai sarana untuk memajukan tanah nenek moyang ini? Dengan menyuplai ilmu dari asing, kita majukan negeri kita. Bukankah seharusnya begitu?” tambah sisi hatiku yang lain.

Yap, aku menemukannya. Yang membuat hatiku selama ini gelisah. Bahasa moyangku. Aku harus kembali menguasainya. Aku ingin berkumpul dengan saudaraku. Ya, saudaraku yang menghargai moyangku. Persetan dengan teknologi yang membunuh bahasaku. Segera kuhubungi sang dokter.

Tapi aku ragu. Mampukah aku bertahan di antara cemoohan orang dan teman-temanku begitu mereka tahu aku anggota Perkumpulan Pelestari Bahasa Indonesia?

Baiklah, untuk langkah awal, aku harus mencari buku asli berbahasa Indonesia, malam ini! Tapi…

“Di mana?”

“Pasti ada..”

“Iya, di mana?”

Untuk menghentikan pertengkaran hati dan pikiranku, segera kucari lewat internet, lokasi perpustakaan yang menyediakan buku asli. Di daerahku.

“Ada!”

Buka 24 jam! Perpustakaan ini milik pribadi, dan ia bersedia membuka kesempatan bagi setiap orang untuk mengunjunginya 24 jam. Demi melestarikan bahasa katanya. Dan ternyata, jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemenku.

Pukul 02:57 am, aku melangkah ringan di terangnya jalan. Jalanan masih ramai. Seperti bukan malam hari. Kurelakan berjalan cukup jauh. Aku sudah bosan dengan kendaran modern yang hanya akan membuat kakiku lemah.

Dua belas menit kemudian, aku sampai di tempat yang dituju. Sebuah rumah kecil dengan pintu dari kayu rapuh. Pintunya pun tidak memiliki gagang.

Tok..tok..

Krieeeeet……..

Baru saja ia mengetuk pintu, pintu itu langsung terbuka. Ternyata tidak dikunci.

Dan aku terpesona. Deretan rak kayu menyambutku. Ada tiga rak kayu menempel di dinding sebalah kiri, kanan, dan belakang. Dua lagi berjejer rapi di tengah ruangan.

Sepasang orang tua tergopoh-gopoh menyambutku. Kulit mereka keriput, yang pria malah sudah bongkok. Mereka tersenyum padaku. Dan kulihat cahaya menerangi ruangan hatiku saat melihatnya.

Inilah masa depanku. Bukan. Tepatnya, masa depan negeriku. Bukan hanya untuk insomniaku.

*laptop/ komputer jinjing

02 Maret 2008

Untuk Bahasa Negeriku…

Cerpen Dikutip dari Koran Kampus Universitas Negeri Padang (GANTO)

1 Response so far »


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: