KRITIK CERPEN ORANG-ORANG KUAT:

Di Balik Sebuah Kekuatan

Oleh: Leni Marlina, S.S

Komunisme dengan berbagai akibat yang ditimbulkannya menjadi tema yang banyak digarap sastrawan Aliran Sastra Pascaperang. Sebuah hasil kekayaan imajinasi yang menyinggung komunis kembali dihidangkan secara unik oleh seorang pengarang muda bernama Rio SY melalui cerpennya yang berjudul “Orang-orang Kuat”.

Cerpen ini menarik karena satuan peristiwa dihidangkan oleh pengarang dengan pola sorot balik. Peristiwa masa lalu erat kaitannya dengan pembentukan konflik tokoh pada saat sekarang.  ”Orang-orang kuat” sebagai sebuah cerpen cukup bagus untuk mengambarkan satuan peristiwa yang ada. Pelukisan sebab-musabab terjadinya konflik dalam cerpen ini memunculkan rumus kausalitas. Jika ada sebab akan lahir akibat, sebaliknya jika ada akibat dikarenakan ada sebab.

Pada paragraf pertama cerpen ini, pembaca dikejutkan dengan adanya perempuan bernama An yang memiliki fisik begitu kuat sehingga mampu membengkokkan jeruji besi dimana ia sedang dipenjara. Ternyata An juga  memiliki saudara laki-laki bernama Kal, yang tidak kalah kuat fisiknya dengan An. Siapakah An dan Ka?

Dari alur sorot balik diketahui bahwa An dan Kal  adalah anak yang pernah lolos dari pembunuhan akibat dicap sebagai anak PKI (Partai Komunis Indonesia). Padahal kenyataannya, jangankan anak PKI, mereka sendiri tidak tahu siapa ayah mereka. Ibu merekapun sudah meninggal tanpa diketahui jasadnya. Mereka hidup terlunta-lunta di jalanan.

Pada suatu ketika mereka dicap sebagai anak PKI, ditangkap dan ditembak. Seharusnya menurut logika kita, mereka sudah tewas. Tapi dalam cerpen ini kedua tokoh An dan Al lolos dari maut.  Ketidaknormalan mereka, menjadi manusia kanibal, justru berawal dan berakar kejadian tersebut. Sejak kecil mereka telah memakan daging mayat. Suatu saat An ketahuan sedang menggali kuburan baru untuk mendapatkan mayat. Ia kecanduan memakan mayat sejak peristiwa pembunuhan orang-orang yang dianggap terlibat PKI. Peristiwa ini mengantarkan An ke balik sel penjara.

Cerpen ini secara berani, tajam dan cerdas mengungkapkan bagaimana menghantuinya Partai Komunis di Indonesia. Bahkan anak kecil yang tidak berdosa sekalipun jika dianggap terlibat dengan partai tersebut, akan ikut dicap sebagai anak PKI, apalagi orang dewasa. Akibatnya semua mereka yang dianggap terlibat dengan organisasi terlarang tersebut ditangkap dan dibunuh.  Seperti yang diungkapkan dalam cerpen ini ”Satu-persatu orang-orang yang dianggap PKI ditembak, termasuk Kal dan An.”Anak keturunan mereka pun yang tidak tahu apa-apa dengan apa yang telah dilakukan oleh orang tua mereka juga mendapatkan deskriminasi sosial dan politik sebagai bentuk hukuman pernah terlibat dengan PKI.  Jika ada hantu kekuatan yang paling ditakuti sampai saat ini barangkali hantu itu bernama komunisme.

Cerpen Rio Sy memikat pembaca dengan keunikan kisahnya, sehingga membuat pembaca melanjutkan hingga tamat. Kenapa An dan Kal mempunyai kekuatan fisik yang luar biasa sejak kecil, padahal mereka bukanlah dukun? Kenapa An bisa dipenjara? Ternyata dibalik kekuatan An dan Al, ada lagi kekuatan yang lebih kuat. Buktinya An tak mampu melawan ketika digiring ke kantor polisi, sebab lelaki yang menangkapnya itu adalah seorang bekas tentara yang sering datang menemui ibunya dulu, sebelum ia dan Kal lahir. Siapa pulakah tentara itu? Jawabannya masih misterius sama dengan misteriusnya kekuatan yang dimiliki An dan Kal. Siapakah orang yang lebih kuat dari An dan mampu memenjarakan An masih misterius. Sama misteriusnya dengan phobia PKI yang melanda negeri ini. Nampaknya Inilah yang pengarang ingin beritahu lewat cerpennya.

Dalam cerpen ini ”Orang-orang kuat” merefleksikan dua makna. Pertama, berarti orang yang memiliki kekuatan fisik yang sangat luar biasa sejak mereka kecil  seperti An dan Kal. Kedua, berarti orang yang punya kekuatan melalui kekuasaan dan kewenangan yang dipegangnya. Secara tersirat dinyatakan dalam cerpen ini bahwa dibalik sebuah kekuatan terdapat kekuatan lain. Nilai moral yang dapat dipetik dari cerpen ini adalah orang yang berkekuatan hebat sekalipun (baik dari segi fisik maupun kekuasaan), tetap saja akan berakhir dan mengalami kehancuran apabila disalahgunakan.

Penulis adalah Wakil Ketua IKAPIP

(Ikatan Keluarga Alumni PPIPM –[Pusat Pengembangan Ilmiah dan Penelitian Mahasiswa) UNP tahun ’07/08.

Dosen Bahasa Inggris FBSS UNP.

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Kampus UNP (GANTO) tahun 2008 (ketika menjadi kolumnis kritik cerpen GANTO)

****************

Orang-orang Kuat

Oleh Rio SY

Mungkin karena An adalah seorang perempuan, ia merasa terlalu hina berada di balik jeruji besi. Mungkin pula karena malu bila orang lain tahu bahwa ia dipenjara. Mungkin itulah yang mendorongnya untuk menguak jeruji besi itu. Seperti kawat kecil saja jeruji itu ia bengkokkan. Tampak sekali ia tak terlalu susah melakukannya.

An bukanlah seorang tukang sihir atau dukun, atau semacamnya. Tidak ada yang tahu bagaimana An melakukannya. Belumlah sampai jeruji tersebut dikuaknya lebar-lebar agar tubuhnya bisa lolos dari sana, mendadak seorang lelaki datang mecegatnya.

“An, jangan. Kau melakukannya lagi?”

“Kal. Aku, aku tak sadar. Semuanya di luar kendali.”

“Sudah kukatakan, kita tak bisa terus hidup semacam itu.” Jeruji yang terkuak itu dikembalikan lagi pada posisi semula oleh Kal. Begitu mudah baginya untuk mengembalikan besi yang bengkok itu. Persis seperti yang dilakukan An.

“Kal, aku tak mau berada di sini. Aku….” Matanya berkaca-kaca menengadah pada  Kal, seperti manusia yang sedang meminta hujan.

“Aku akan mencoba membebaskanmu. Tapi tidak dengan cara seperti ini, mengerti? Aku akan mencari jalan untuk membebaskanmu?”

“Kal,” digenggamnya tangan Kal dengan harapan mendapatkan sesuatu yang nyaman bagi keluh hatinya.

Teng teng teng! Petugas memberi tanda bahwa waktu berkunjung habis.

***

Tak seorang pun yang tahu bagaimana mereka menjadi kuat seperti bison. Kal dan An adalah kakak beradik dari ibu yang sama. Mereka sendiri tak tahu siapa ayah mereka sebenarnya. Yang mereka tahu hanya mereka lahir dari rahim yang sama namun entah dari bibit lelaki mana. Dari lelaki yang samakah?

Jarak kelahiran mereka hanya berselisih sembilan bulan. Semasa kanak mereka hanya tahu bahwa ibu mereka setiap malam tiada di rumah. Pagi-pagi subuh baru pulang, membuka pintu dengan hati-hati. Pernah suatu kali Kal tak bisa tidur, sedangkan An telah pulas dalam tidurnya. Ia mengintip dari balik selimutnya. Tampak ibunya sedang mematut-matut wajahnya dengan bedak, gincu dan sebagainya di depan cermin. Memakai rok yang memamerkan paha, dan baju yang ketat sehingga terlihat jelas lekuk dada dan tubuh ibunya yang sudah berumur 45 tahun itu. Kal bisa memperhatikan ibunya keluar pada malam hari dan pulang bila sudah pagi karena rumah mereka hanya satu petak. Semuanya berada dalam satu ruangan itu. Ruang tamu, kamar, dapur, cuma kamar mandi yang berada di belakang rumah kontrakan kecil lagi murah itu. Perkakas mereka tidaklah banyak. Tapi tampak padat karena ruangannya hanya 4 x 4 meter. Kasur, kompor, meja, kursi, lemari, dan perkakas lainnya berada secara acak di sana.

Dulu. Sebelum Kal dan An lahir, dua tahun sebelum Jepang menduduki Indonesia, pernah beberapa orang tentara sering datang ke pemukiman kumuh tersebut secara bergantian. Ia hanya berkunjung pada malam hari menemui Sang ibu. Dulu. Kala  Sang ibu masih muda dan cantik, sehingga ia tak perlu susah payah mencari pelanggan ke mana-mana seperti saat ini

Belumlah sempat mereka tahu dan mengerti bagaimana ibu mereka membesarkan mereka, mereka harus menelan empedu karena di pisahkan dari induknya. selamanya ibu mereka tak pulang, dan mereka tak tahu kenapa. Selama itu mereka makan dari belas kasihan dari para tetangga. Karena betapa pun para tetangga itu tahu bagaimana ibu mereka, sebagai manusia mereka ikut prihatin pada anak-anak sekecil itu. Hingga suatu hari tersebarlah kabar di antara para tetangga bahwa ibu mereka telah meninggal. Tiada yang tahu di mana dan bagaimana sang ibu meninggal. Yang pasti jasad perempuan itu tak pernah ditemukan.

Memang, kemerdekaan telah diproklamirkan oleh Soekarno 20 tahun yang lalu. Namun masih saja ada warga yang seolah-olah menjelma menjadi Belanda atau Jepang dengan mengusir anak sekecil itu begitu saja dari rumah kontrakan mungil itu oleh pemiliknya. Barangkali karena kita sudah tidak mempunyai musuh lagi sehingga saudara sendiri yang yang menjadi lawan. Tetangga pun tiada yang bersedia memelihara mereka apalagi menyekolahkan mereka di sekolah rakyat. Tentu saja. Untuk sekedar memberi makan pada anak-anak dan istri mereka saja masih amat sulit. Kalau mereka mampu lebih dari cukup, barangkali mereka tidaklah tinggal di pemukiman kumuh itu. Barangkali itu pula yang menjadikan partai komunis mendapat banyak simpatisan di negeri ini. Maka dipenuhilah jalanan dan rumah-rumah dengan bendera merah bergambar palu arit.

Dan di jalanan ini, mereka bagai telah berdamai dengan nasib. Hidup terlunta-lunta berdua. Tidur di mana saja. Di mana mengantuk, di sanalah mereka tidur. Dan mulanya mereka juga tak tahu harus makan apa. Hingga, sering kali mereka mencuri makanan. Dan sesering itu pula mereka dikejar-kejar pemilik warung. Ditangkap dan bahkan diantara pedagang itu ada yang memukul. Tak jarang pula mereka berkelahi dengan anak jalanan lainnya. Pernah mereka dipukuli habis-habisan oleh preman karena tak mau disuruh sesuai keinginan mereka.

Mereka makan dari apa saja. Apapun. Kulit buah-buahan yang telah dibuang, nasi sisa yang telah basi dan berbau busuk, dan mandi dari air hujan atau air kali yang mengalir di tengah-tengah kota.

***

Kembali malam dengan rintiknya yang aneh, bukan gerimis apalagi hujan. Orang-orang yang lalu lalang di depan mereka menggunakan jaket—dengan kedua tangan memangku badan dan jas hujan walau rintik hujan tiada deras turunnya. Siapa saja, dan setiap orang yang melintas di depan mereka jadi terheran-heran, sebab dengan cuaca yang sebegini dinginnya, anak-anak seusia mereka tiada sedikit pun menunjukan rasa dingin.

Seketika itu, entah muncul darimana, tiba-tiba seorang pemuda dengan kalang kabut berlari menuju arah Kal dan An. Wajah pemuda itu tampak ketakutan. Di belakangnya, berpuluh-puluh warga susul-menyusul mengejarnya. Sekilas, Kal merasa kenal dengan wajah pemuda ini. Pemuda ini sering  bertandang ke kantor yang benderanya berwarna merah dengan gambar palu arit. Kal dan An sering duduk di seberang jalan kantor itu, dan kadang-kadang mereka diajak ke dalam kantor dan dikasih makan oleh bapak-bapak di kantor merah tersebut.

”Woi, nyerah tidak!”

”PKI !”

”Bunuh!”

”Bakar saja!”

Para warga mendapatkan pemuda itu. Ia dipukuli seperti anjing gila yang meresahkan dan harus dimusnahkan. Diseret, lalu berdiri, dipukul terus dan terhempas ke sana ke mari dan setiap orang bagai bergilir menghantam dan memukulinya. ”Dasar PKI. Katanya kamu pemuda rakyat, ya?” Disusul hantaman yang tak tanggung-tanggung. Acapkali Kal dan An menyaksikan pencidukan seperti ini, namun kali ini Kal tiada bisa lagi menahan rasa kasihannya pada Sang pemuda. Kal berdiri, berlari ke arah kerumunan yang membabi buta. Entah bagaimana caranya, Kal, tanpa ragu memukul dada salah seorang dari warga. Duk! Warga berhenti dan tertegun melihat hal itu. Salah seorang warga yang dipukul Kal pingsan seketika.

”Hei! Siapa kau?”

”Kalau berani satu-satu.”

Amarah warga semakin tinggi. ”Anak PKI!” Salah seorang maju hendak meringkus Kal. Kal tak menunggu lama-lama, sekali mendekat saja orang tersebut dipukul hingga terpental. Mereka kembali tercengang dengan mulut yang setengah menganga. ”Hantu!” teriak seseorang sambil menyeret baju temannya untuk mengajak lari.” ”Bukan, itu anak hantu!” Entah siapa yang mulai memilih untuk lari, dan itu membuat warga yang lain ikut lari tunggang-langgang meninggalkan Kal dan pemuda itu.

Ketika warga telah menghilang di ujung jalan, An menghampiri Kal dan pemuda yang telah babak belur itu.

”Terima kasih ya dik. Aku tak tahu bagaimana jadinya bila tak ada yang menolong. Tapi, bagaimana bisa adik ini melakkukannya.”

”Biarkan sajalah. Abang ini yang sering datang ke kantor yang dindingnya berwarna merah itu kan? Lalu apa salah abang sampai orang-orang itu memukuli abang?”

”Ada dua blok besar dalam politik, termasuk dalam tubuh ABRI. Kamilah salah satu dari blok itu. Ada permainan politik di sini. Saya yakin partai tak terlibat dalam pembunuhan dewan jendral tempo hari.” Kal dan An terbengong-bengong karena tak paham apa yang diujarkan sang pemuda.

”Sudahlah. Kalian tidur di mana? Sebaiknya kalian tak di sini, karena ada jam malam.”

”Jam malam itu apa?” Tanya An.

”Kalian berdua ikut saya saja. Rumah teman saya tak jauh dari sini.”

***

Tidaklah terduga. Baru saja mereka menginjakkan kaki di rumah yang dituju, mendadak datang beberapa orang tentara yang dilengkapi senjata. Beberapa orang preman dan warga termasuk dalam rombongan itu. Mereka datang menggrebek penghuni rumah tersebut. Tapi di antara pemuda dan temannya tak ada yang berusaha melarikan diri. Mereka menyerah begitu saja. Mereka diikat dan ditarik secara kasar. Beberapa tentara menodong-nodongkan senjatanya. Warga dan preman beramai-ramai meludahi mereka. ”PKI anjing!”.

Kecuali Kal dan An. Para penggrebek membiarkan kedua anak itu. Ternyata Kal tak berdiam diri.

”Pak, jangan tangkap abang kami Pak,” ia merengek sembari merangkul pinggang si pemuda. Dengan begitu saja An juga mengikuti apa yang dilakukan Kal. Para penggrebek berusaha melerai. Memisahkan mereka. Namun tiada yang bisa menguak pegangan kedua anak itu barang sedikit pun. ”Kuat benar anak ini.” Orang-orang terheran-heran dengan keanehan ini. Salah seorang tentara menodongkan senjatanya pada Kal.

”Lepaskan!”

”Tidak.”

”Dik, lepaskanlah. Maaf dik, abang tak bisa membawa kalian. Pergilah,” ujar si pemuda.

”Tidak!”

”Lepaskan!” Bentak si tentara.

”Tidak!” An tak bisa menahan tangisnya. ”Kal…”

”Ya sudah, bawa saja anak PKI ini sekalian.”

Mereka ditarik ke atas truk yang ternyata sudah ada sejumlah orang yang mungkin (akan) diberlakukan sama dengan mereka. Orang-orang di atas truk itu hanya memilih diam. Pucat. Ketakutan memancar dari wajah mereka. Sebelum truk bergerak memberangkatkan mereka, para warga melempari mereka dengan batu. Di bawah, dua orang tentara dan satu orang warga sedang mencek daftar nama-nama yang tertera pada  sehelai kertas.

Berjam-jam dihabiskan dalam perjalanan itu. Setiap sejam, truk berhenti menaikan satu hingga lima orang ke atasnya. Semua wajah mereka menjadi hampir sama pucatnya.

”Kita akan dibawa ke mana, bang?” Akhirnya Kal memberanikan diri bertanya.

”Abang juga tak tahu, dik. Sebaiknya kita berdoa saja. Maafkan abang, ya. Kenapa tadi kamu tidak lari saja.”

”Kami tak mau kehilangan lagi. Cuma abang yang mau membawa kami. Kemana pun abang pergi, kami akan ikut.” Si pemuda tersenyum dengan mata yang beriak seperti sebuah danau.

“Sebagian dari kita akan dibawa ke Maluku.” Salah seorang angkat bicara.

”Sebagian lagi?”

”Entahlah. Mungkin akan di bunuh.”

”Yang dibawa ke Maluku diapakan?”

”Dipekerjakan di beberapa pulau di Maluku pada proyek pertambangan.”

“Menjadi romusa?”

“Barangkali.”

Langit mulai cewang. Diturunkanlah sebagian dari mereka di sebuah tempat yang entah di mana, entah apa namanya. Yang jelas, sebuah pantai yang tiada berpenghuni. Si pemuda juga di turunkan di sana, tentu saja Kal dan An ikut dengannya. Sebagian lagi, termasuk teman Si pemuda diberangkatkan (katanya) ke Maluku. Mereka dibentak, disuruh turun. Dan digiring menuju tepi laut. Tiada yang berani melawan. Melihat dua orang anak—Kal dan An, para tentara mulanya agak ragu. Beberapa tentara sudah mencoba memisahkan mereka, namun gagal. Pegangan Kal dan An terlalu erat dan kuat. Akhirnya para tentara itu memilih untuk memutuskan untuk menghabisinya sekalian, sebab anak PKI seperti mereka memang pantas mendapatkannya.

Satu-persatu orang-orang yang dianggap PKI ditembak, termasuk Kal dan An. Tak ada tangis. Tak ada pekikan. Kedua anak itu tergeletak hingga para tentara meninggalkannya bersama mayat-mayat yang dibiarkan bergelimpangan begitu saja. Kal bergerak, diam belum mati, dan mencoba untuk bangun. Peluru itu tak menembus tubuhnya. Hanya menyakiti sedikit saja untuk membuatnya pingsan sejenak. Begitu pula An, ia bangun dengan kondisi sama persisnya dengan Kal, hanya saja An menangis sekaligus tersedu. Namun korban yang lainnya berhasil menemui ajal masing-masing. Tempat tersebut seketika menjadi sisa-sisa perang.

***

Begitulah akhirnya. Di sana, tiada pilihan selain memakan daging mayat-mayat untuk bertahan hidup. Mereka menyayatnya dengan batu lalu dibakar. Begitulah mereka melakukannya. Demi bertahan hidup. Kemudian berubah menjadi candu tanpa mereka sadari. Kecanduan itu yang mereka bawa sampai dewasa, mereka bawa sepanjang perjalanan kembali ke kota kelahirannya. Sepanjang itu pula, selain memakan makanan normal, mereka mencari mayat-mayat yang baru dikuburkan demi candu itu. Hanya saja Kal lebih dulu menyadari bahwa candu itu amatlah tidak biasa bagi manusia. Tapi An, ia masih saja sering kewalahan manahan hasrat tersebut. Hingga ia tertangkap basah sedang menggali kuburan. An berusaha meronta melepaskan diri, namun gagal karena orang itu tak lebih lemah darinya. Begitu kuat persis seperti Ia dan Kal. An tak mampu melawan ketika digiring ke kantor polisi, sebab lelaki yang menangkapnya itu adalah seorang bekas tentara yang sering datang menemui ibunya dulu, sebelum ia dan Kal lahir.

Ruangsempit/Padang, 2008

Cerpen Dikutip dari Koran Kampus Universitas Negeri Padang (GANTO)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: