OPTIMALISASI KEPEMIMPINAN PEMUDA INDONESIA

MELALUI GERAKAN INTELEKTUAL

Oleh: Leni Marlina **

Kepemimpinan pemuda merupakan kunci utama pembangunan bangsa. Tiap perubahan zaman selalu dimulai dengan barisan pemuda yang visioner, berani, pantang menyerah, dan tidak mengharapkan balas jasa maupun popularitas. Pemuda senantiasa mengambil peran menentukan dalam perjalanan sejarah bangsa. Sejak zaman perjuangan merebut kemerdekaan sampai sekarang, pemuda selalu berada di garda terdepan (Tapi, seberapa banyak pemuda yang betul-betul berjuang atas nama ibadah penuh keihklasan? Jangan dihitung dulu yang ikhlas, seberapa banyak pemuda yang punya inisiatif untuk turut membangun bangsa dengan cara yang lebih efektif dan inovatif? Seberapa banyak pemuda yang peduli terhadap bangsanya sebagaimana ia peduli pada dirinya dan keluarganya. Memang benar adanya, sejumlah kasus menunjukkan bahwa sejumlah pemuda bahkan tidak mampu mengurus dirinya sendiri dan malah menimbulkan keresahan masyarakat. Tentunya, hal ini belum dapat digeneralisasi begitu saja. Terlepas dari kasus tersebut, kita dapat melihat peran pemuda Indonesia dengan belajar dari sejarah bangsa.

Pada masa penjajahan, kaum muda dari berbagai daerah di nusantara menyemai bibit persatuan dan kesatuan dalam bingkai ”Sumpah Pemuda” 1928. Pada masa kemerdekaan, kaum muda tampil sebagai generasi pembebas, sehingga revolusi 1945 dikenal dengan ”Revolusi Pemuda”. Demikian pula tahun 1966, kaum muda mempelopori peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Karena penyimpangan kekuasaan cendrung berulang, pada tahun 1998 kaum muda bergerak kembali untuk meluruskan arus reformasi kehidupan bangsa dan negara. Dalam memainkan perannya pada setiap waktu, pemuda memiliki semangat perlawanan kritis dan menyimpan spirit jiwa merdeka serta memiliki potensi kepemimpinan yang mampu menerobos zaman.

Bangsa Indonesia memutuhkan pemuda yang mampu merapatkan integritas bangsa. Elemen pergerakan pemuda seperti mahasiswa, aktivis, taruna dalam berbagai dedikasi dan institusi, meski dipersatukan dalam platform umum membangun kembali keindonesiaan kita. Setiap elelemen pemuda di seantaro negeri ini, harus menyadari betul posisinya sebagai bagian dari warga negara yang punya kesadaran hakiki dan kematangan  serta kekritisan berpikir untuk membangun bangsa.

Guna menata peradaban bangsa, maka kepemimpinan pemuda merupakan aspek krusial. Reinvensi kepemimpinan pemuda yang menghimpun jalinan tali persatuan dan memiliki visi yang kuat perlung dirangkai dalam bentuk yang lebih terencana dan strategis. Ada dua solusi alternatif untuk mewujudkan potensi pemuda yang demikian. Pertama, melalui edukasi dan internalisasi kepemimpinan pemuda secara nasional yang bersifat nasionalis dalam berbagai aspek kehidupan bangsa.  Kedua, melalui optimalisasi kepemimpinan pemuda melalui gerakan intelektual.

Solusi alternatif pertama, edukasi kepemimpinan pemuda.  Edukasi kepemimpinan pemuda secara nasional bukan berarti memberikan pelajaran kepemimpinan pemuda (teori kepemimpinan yang perlu diketahui pemuda). Sebaliknya edukasi  kepemimpinan pemuda berarti memberikan ruang gerak dan kebebasan yang ”tidak tak terbatas” bagi pemuda dalam membangun bangsa melalui potensi jiwa kepemimpinan yang murni timbul dari diri pribadi mereka (tanpa rekayasa dari pihak lain yang berkepentingan.

Dalam melakukan internalisasi kepemimpinan pemuda, format kepemimpinan pemuda yang harus diwujudkan mestinya sesuai dengan ”jiwa zaman” yang membangun sistem pribadi-pribadi yang unggul, arif, dan berlandaskan pada moral. Prasyarat internalisasi berikutnya yaitu mampu menerobos batas dengan berupaya melampaui konflik kepentingan secara pribadi maupun kelompoknya demi kemashalatan bersama. Di sini, generasi muda harus bijak menyikapi arus globalisasi dan perubahan sosial yang amat cepat.

Solusi alternatif kedua, optimalisai kepemimpian pemuda melalui ”gerakan intelektual”, merupakan solusi yang juga berfungsi untuk mengoptimalkan solusi alternatif pertama. Para pemuda perlu lebih banyak mengedepankan nuansa intelektual ketika bergerak dalam menuntaskan perubahan. Secara hakiki, kepemimpinan pemuda adalah gerakan intelektual yaitu jauh dari kekerasan dan daya juang radikalisme. Mengingat, gerakan ini bermuara dari kalangan akademis kampus, gerakan ini cenderung mengedepankan rasionalitas dalam menyikapi berbagai permasalahan yang kemudian disebut dengan ”gerakan intelektual”. Kepemimpinan melalui gerakan intelektual dapat dioptimalisasikan melalui tiga tradisi yang telah ditanamkan sejak di bangku sekolah usia dini sampai di Perguruan Tinggi yaitu membaca, menulis, dan diskusi.

Pertama, gerakan intelektual melalui budaya diskusi. Gerakan pemuda (mahasiswa) harus memperbanyak ruang diskusi-pra dan pasca pergerakan. Diskusi akan membawa gerakan mahasiswa menjadi sebuah gerakan rasional dan terpecaya-ciri khas gerakan mahasiwa. Lantaran itu, elemen masyarakat secara umum akan lebih menghargai isu-isu yang diusung oleh gerakan mahasiswa. Seperti dalam melakukan demonstrasi, elemen gerakan mahasiswa harus mengkaji lebih detil-apa, mengapa dan latar belakang-kebijakan pemerintah harus dikritisi.

Dari kajian-kajian dalam bentuk diskusi lepas dengan mengundang para pakar yang berkaitan dengan agenda aksi, akan mampu melahirkan gagasan-gagasan dan anlisa cemerlang. Dan selanjutnya hasil kajian ini didokumentasikan atau diarsipkan dengan rapi, sebagai bahan inspirasi dan referensi pembangunan. Dengan demikian gerakan mahasiswa tidak akan terkesan sebagai rutinitas dan formalitas tervokatori atas nama kepentingan masyarakat. Karena gerakan saja tanpa didukung dengan kajian dan latar belakang yang kuat, sesungguhnya tidak akan mampu meraih intisari idealitas yang diusung. Oleh karena itu, diskusi ilmiah perlu lebih dibudayakan agar gerakan mahasiswa tidak terjebak dalam gemerlap kerumunan, melainkan dapat membentuk barisan yang mempersatukan.

Kedua, gerakan intelektual melalui budaya menulis. Aktivitas menulis merupakan salah satu gerbang menuju tradisi intelektual bagi gerakan mahasiswa. Sejak dulu sampai sekarang, tokoh intelektual bangsa Indonesia-bernotabene mantan tokoh aktivis pemuda dan mahasiswa, banyak melemparkan gagasan dan berbagai ide cemerlang ataupun kritikan tajam serta  membangun wacana melalui tulisan.  Bila kita balikkan ke pergerakan mahasiswa, mendukung dan menggalakkan isu-isu melalui media cetak dapat dibaca oleh kalangan lebih luas-dalam artian lebih efektif untuk menyebarkan gagasan atau wacana ke seluruh pelosok persada nusantara, bahkan sampai manca negara. Dalam mewacanakan isu dan pemikiran untuk kepentingan bangsa, mahasiswa tidak perlu bergantung pada media cetak yang sudah ada. Mahasiswa perlu memiliki media cetak kampus sendiri seperti buletin dan jurnal mahasiswa. Sehingga kebebasan dan keobjektifan tulisan semakin murni.

Tulisan yang diharapkan dari pemuda yang memiliki jiwa kepemimpinan tidak hanya sebatas mengemukakan isu serius dan mendesak. Tapi, sangat dibutuhkan tulisan yang berupa solusi dari berbagai isu atau permasalahan yang tengah dihadapi bangsa. Biasanya tulisan ini berbentuk karya ilmiah berdasarkan hasil observasi, survei dan penelitian.

Semua mahasiwa memiliki kesempatan untuk memberikan solusi alternatif yang dibutuhkan bangsa secara nasional melalui berbagai kegiatan ilmiah seperti LKTM (Lomba Karya Tulis Mahasiswa), PPKM (Presentasi Pemikiran Kritis Mahasiswa), PKM (Program Kreativitas Mahasiswa)  yang diselenggarakan oleh DIKTI (Dirjen Perguruan Tinggi). Tulisan yang berisi solusi akan diseleksi dengan ketat dan dipresentasikan dihadapan juri yang merupakan pakar di bidangnya dan hasilnya dapat dipublikasikan dan diaplikasikan secara luas bagi masyarakat Indonesia.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya, mahasiswa dapat memberikan kontribusinya dengan menulis karya sastra sebagai refleksi dari realitas kehidupan masyarakat. Untuk mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, tidak harus selalu dilakukan melalui tulisan ilmiah atau disampaikan pada forum kajian ilmiah. Karya sastra adakalanya lebih menggungah masyarakat (pembaca) termasuk kaum muda dalam melakukan perubahan dan pencerahan bagi kehidupan bangsa. Untuk itu budaya menghasilkan tulisan ilmiah dan sastra perlu lebih  dioptimalisaikan.

Ketiga, gerakan intelektual melalui budaya membaca. Aktualisasi isu sangat penting bagi gerakan mahasiswa dalam bergerak. Begitu cepatnya pergeseran berita dan opini publik, menghendaki kita untuk senantiasa membaca—kalau tidak akan tertinggal.Kesibukan bukan alasan tepat untuk tidak membaca, di mana atau kapan pun bisa kita luangkan waktu untuk membaca. Sebuah harapan, gerakan mahasiswa juga bisa mewacanakan dan melakukan semacam ”Gerakan Gemar Membaca” dan disosialisasikan secara luas. Cara ini, dapat menunjukkan gerakan mahasiswa ikut membantu pemerintah dalam membuka kunci gembok kebodohan serta berperan menyelesaikan problem pendidikan Indonesia tak kunjung terselesaikan.

Indikator budaya membaca pada awalnya dilihat dari banyaknya orang yang membaca dan jumlah buku atau sumber bacaan lain yang telah selesai dibacanya. Tapi, sekarang indikator budaya membaca yang diharapkan jauh lebih dari itu. Mahasiswa mampu memahami dan mengaplikasikan apa yang telah dibacanya sekaligus mendapat ide cerdas dari apa yang dibacanya, sehingga mampu memberikan inspirasi dan solusi bagi kemajuan bangsa.

Barisan kepemimpinan pemuda mesti dibangun di atas paradigma yang membebaskan dan mencerahkan. Untuk itu, pemuda perlu membangun barisan yang cinta agama dan khazanah ilmu pengetahuan, yakni, generasi muda yang  senantiasa menjalankan ajaran agama dan senantiasa belajar berbagai ilmu ilmu pengetahuan untuk mengotimalkan daya pikir. Hingga saatnya benih-benih kaum intelektual hadir menuntun peradaban bangsa dengan berbagai solusi kreatif dan inovatif disertai kearifan dan kesantunan.

Optimalisasi kepemimpinan pemuda tidak hanya diperuntukkan bagi pemuda yang berpengalaman dalam memimpin organisasi atau massa. Tapi juga diperuntukkan bagi setiap pribadi pemuda yang mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin bangsa. Dengan dimulainya optimalisasi kepemimpinan pemuda dari diri sendiri, orang lain akan terinspirasi dan akan mengikuti. Disinilah hakikat kepemimpinan pemuda – mampu memimpin orang lain ke arah kemajuan tanpa promosi jabatan apalagi paksaan dan tekanan.

Untuk itu, setiap pribadi sebagi pemuda harus merdeka sejak dalam pikirannya sedari dini. Jadi, membangun Indonesia dimulai dengan transformasi kepemimpinan dan optimalisasi kepemimpinan pemuda. Tidak akan berhasil transformasi kepemimpinan tanpa mempersiapkan kepemimpinan generasi pemuda yang kritis, kreatif dan inovatif. Kepemimpinan pemuda akan optimal akan terlaksana dengan optimal melalui gerakan intelektual yang dimulai dari diri sendiri, selanjutnya menginspirasi orang lain dan akhirnya memimpin masyarakat ke arah kemajuan.

**Pengurus LITBANG PPIPM (Pusat Penalaran Ilmiah & Penelitian Mahasiswa) UNP 2003/04, Wakil Ketua IKAPIP (Ikatan Keluarga PPIPM) UNP 2007/08. Terbaik I Mawapres (Mahasiswa Berprestasi) Tingkat Nasional 2004. Dosen Bahasa Inggris UNP. Tulisan ini pernah dimuat di Koran Haluan tahun 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: